Lottery website_Indonesian Baccarat_Real Money Gambling Site_Sabah Sports Betting

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:FootballHandicapTeaching

SeringBBaccaraBaccarat Technologyt Technologyaccarat Technologykali yang terjadi adalah warganet justru berbalik BaBaccarat Technologyccarat Technologymenyerang personal sang pembuat opini tanpa mempedulikan gagasan yang diajukan, atau yang sering disebut dengan ad hominem. Memang perlu waspada dan butuh kehati-hatian ketika kita ingin mengatakan sebuah pendapat di media sosial. Pendek kata, sampaikan dan utarakan maksudnya dengan santun dan bertutur yang sopan. 

Alasan pembatalan bisa bermacam-macam, tetapi biasanya karena orang yang bersangkutan telah menyatakan pendapat yang tidak pantas, atau telah bertindak dengan cara yang tidak dapat diterima oleh kebanyakan masyarakat, sehingga jika masih berusaha untuk menikmati karya mereka, ada rasa tidak senang yang akan muncul

Mengutip kamus Merriam-Webster, cancel culture dapat diartikan sebagai aksi pembatalan yang berkaitan dengan pencabutan dukungan terhadap tokoh masyarakat sebagai tanggapan atas perilaku atau pendapat yang tidak menyenangkan. Ini dapat mencakup boikot atau penolakan untuk mempromosikan pekerjaan mereka. 

Publik seakan murka dan meluapkan kekesalannya dengan cara masing-masing. Mulai dari menggelar petisi penolakan yang telah ditandatangani lebih dari ratusan ribu orang, membuat tagar untuk menolak tindakan yang sepatutnya tidak dilakukan hingga kemarahan warganet yang sudah tidak terbendung dengan merangsek ke arah pemboikotan. Fenomena yang semakin mencuat seperti ini memang bukan yang pertama terjadi, dan secara luas dikenal sebagai cancel culture. 

Yang banyak terjadi di media sosial sekarang ini, jika seseorang terjebak dalam sebuah perdebatan online dan mengeluarkan opini yang tidak lazim atau tak sesuai dengan pendapat kebanyakan orang, serangan tak lagi dikembalikan berupa jawaban terkait permasalahan ataupun gagasan pembuat opini.

Istilah ini memang cukup populer di antara penutur bahasa Inggris sejak beberapa tahun ke belakang dan dikhawatirkan bersifat politis. Bukan hanya selebriti dunia, hal ini juga menimpa banyak public figure di Indonesia. Lantas, apakah cancel culture ini tergolong dalam aktivitas yang menyelamatkan? atau justru merugikan bahkan mengarah ke arah negatif atau online shaming? 

Apa yang netizen sebarkan di dunia maya dapat dikatakan mengancam karir mereka sebagai selebritas. Ada yang bertahan, namun juga ada yang jatuh. Karir mereka hancur karena apa yang mereka bangun, dihancurkan oleh sebuah tagar atau cuitan yang mendiskreditkan nama baik mereka. Bukan malah disambut kegembiraan karena sudah menghirup segarnya udara malah digiring di jurang penolakan dan kesalahpahaman.

Selebritas merupakan subyek yang sangat rentan terhadap isu seperti ini. Semua ini berawal dari pengguna media sosial atau yang kerap dipanggil sebagai netizen, mengekspos salah satu kejadian yang menjatuhkan nama baik dari selebritas tersebut, lalu hancurlah karir dari selebritas terkait dan hanya bergantung apakah tim public relation mereka dapat mengatasi permasalahan tersebut. 

Melakukan aksi cancel culture kepada seseorang (biasanya selebritas atau tokoh terkenal lainnya) berarti berhenti memberikan dukungan kepada orang tersebut. Tindakan pembatalan dapat mencakup pemboikotan film aktor atau tidak lagi membaca atau mempromosikan karya penulis.